"Pengetahuan Senirupa yg secara formal saya peroleh memberikan suatu pandangan tentang keluasan, keragaman dan hiruk pikuk dunia seni rupa."
Tentang Saya

Djoni Basri

Lahir Jogya 19 Desember 1957.
Menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI)
di Yogyakarta tahun 1988.

Karyaku
Sebagaimana sebuah pernyataan, seperti apapun adanya tetap merupakan bagian dari totalitas yang didasari oleh kapasitas pribadi dan diperkaya dengan pengalaman.

Pada proses menempuh lintasan pengalaman tersebut secara formal maupun informal pada prinsipnya merupakan proses 'pemintaran' dalam upaya mengimbangi dan menjembatani antara konsep dan visualisasinya.

Sebagai pematung, saya terbentuk oleh pengalaman, pengamatan dan kesadaran dalam keseharian di lingkungan keluarga dan budaya masyarakat setempat. Diantaranya adalah budaya religius puitis Minangkabau, budaya filosofis-mistis 'jawatengahan' serta budaya hangat-lugas 'jawatimuran' sangat menempel dalam kenangan saya.

Pengetahuan senirupa yg secara formal saya peroleh memberikan suatu pandangan tentang keluasan, keragaman dan hiruk pikuk dunia seni rupa. Yang pada suatu masa memberikan sebuah kebanggaan, yang akhirnya saya sadari bahwa itu semu.

Melalui proses pencarian diri beberapa waktu lamanya anatara lain bersentuhan dengan realita keseharian dalam rutinitas umum dan aktifitas kekaryaan, saya meneguhkan sikap bahwa berkesenian (seni murni) bukan sekedar profesi (karir) atau siasat. Dialah jalan hidup dalam berkehidupan. Berkesenian adalah 'perkawinan' antara jati diri seniman dengan kompleksitas kehidupan universal, dan karya sebagai 'anak-anaknya'.

Fikiranku
Sejauh ini saya tetap setia atau memang keras kepala untuk bertahan tidak mengikuti arus yang kuat dalam dunia Seni Murni. Arus Itu adalah saya anggap cenderung mencabut seniman dari akar kepribadian, tergiur oleh capaian yang bernilai ekonomis maupun kelayakan dalam hidup.

Bukan salah mereka siapapun yang memilih untuk mengikuti arus, tapi jangan pernah menganggap salah saya atau siapapun yang bertahan bahkan menentang arus.

Biarkan saya menjadi serumpun semak berduri dalam belantara rupa, tanpa harus berubah menjadi mawar tanpa aroma.

Jiwaku
DI sudut Ka'bah, kuseru padaMu,
memohon penuh harap ridhoMu.
Ya Allah ijini aku, syi'arkan Tauhid Mu..Tauhid Mu..Tauhid Mu.
KeBesaran, keMahaan, keKuasaan,
keBenaran, keMutlakan, dan segala
apapun tentang Mu. Dalam bahasa
sebagaimana Kau berikan. Karuniai aku kekuatan,
keberanian, ketajaman, keluasan pandangan, kejelian, waktu,
kesempatan, nahkan ke'gila'an dalam pertarungan.
Hanya Engkau yang mengijinkan,
karena hanya padaMu juga smua akan kembali

Amin.